Mencermati Fenomena Migrasi Jalak Cina

jalak-cina-kompBulan Oktober setiap tahunnya merupakan bulan puncak Migrasi burung-burung ke Indonesia. Dari burung-burung pantai, burung hutan sampai raptor migran yang tersebar mulai dari pesisir sampai pegunungan. Pengamat burung di Yogyakarta secara rutin mengamati raptor migran di lereng selatan merapi. Tahun 2004 tercatat 1500 lebih individu burung pemangsa migran yang melewati merapi. Kemudian tahun 2005 juga diadakan Festival Migrasi Burung Pemangsa yang melibatkan partisipasi masyarakat local. Fenomena alam migrasi burung dapat digunakan sebagai momen untuk kampanye pelestarian lingkungan.

Selama ini hanya burung pantai migran dan burung pemangsa migran yang mempunyai ‘database’ yang cukup bagus. Burung migran hutan yang datang ‘bergerilya’ lebih sedikit mendapatkan perhatian. Burung-burung tersebut datang sendiri-sendiri maupun dalam kelompok kecil yang tidak terlalu terlihat. Catatan-catatan tentang burung migran hutan (migran terestrial) tercatat secara sporadik dari tahun ke tahun. Catatan burung-burung migran seperti sikatan emas (Ficedula xanthopygia), Jalak Cina (Sturnus sturninus), di Yogyakarta tidak mendapatkan perhatian yang cukup signifikan dari para pengamat burung local. Perhatian yang tidak signifikan tersebut kemungkinan juga karena pengetahuan yang terbatas juga. Bulan oktober ini tercatat pertemuan Jalak Cina beberapa kali oleh Azat, Lim dan Jarot di kawasan ujung Malioboro. Bulan Februari 2006 Wawan juga melakukan rutin pengamatan Jalak Cina di Kampus UGM. Pada waktu itu tema pembicaraan Jalak Cina sempat terlontar juga di milist IdOU. Pak Bas Van Balen memberikan pernyataan bahwa memang sedikit sekali pengamat burung yang konsen dengan burung tersebut. Menurut Lim, burung Jalak Cina sering diperdagangkan di pasar Ngasem Yogyakarta dengan nama dagang “Jalak Kapas” pada waktu musim migrasinya (Oktober- Februari). Burung-burung itu datang berkelompok dalam gerakkan terbang bersama yang cepat dan formasi kelompok yang sangat rapat. Tubuh bagian bawah terlihat putih keabu-abuan terbang dengan kepakkan yang khas Jalak. Pekerjaan rumah bagi para pengamat burung untuk lebih mencermati burung ini, bagaimana kaitannya dengan ketersediaan pakan dan keberlangsungan kelestarian lingkungan tempat burung-burung ini singgah.

4 Tanggapan to “Mencermati Fenomena Migrasi Jalak Cina”

  1. baluran and me Says:

    kayaknya simpatisan KIBC-Kutilang sudah cukup banyak. kenapa nggak di-split aja orang2nya?yang udah nyemplung di AI ya udah tetep fokus di burung air, yang udah ikut RAIN yang trus aja di raptor. la yang belum punya partai ini kenapa nggak di berdayakan aja boss?

  2. wawan Says:

    yeap.., maybe sometime., he mungkin 150 tahun lagi di KIBC akan ada 1500 devisi (sejumlah Jenis-jenis burung di Indonesia. he), thanks bos masukkan yang turut akan membangun KIBC

  3. arif ndoet Says:

    aku partai “moh nulis” bos, hahaha…
    aku kebagian opo?
    moh nulis,..moh maca…, hehe… sitik ding

  4. sadjie Says:

    burung dilindungi cepet punah .klo yang di anggap murahan malah gak di rawat. contoh burung gereja masih buanyak dan berkeliaran di teras-teras toko.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: