Belajar Bersama Pemburu

Menangkap burung di alam bukanlah hal yang baru bagi sebagian penduduk di pesisir utara Jawa. Di Indramayu misalnya, praktek pemanenan burung termasuk burung air migran di alam sudah dilakukan sejak tahun 1940-an sampai sekarang. Bahkan pada periode tahun 70 sampai akhir 80-an, mayoritas penduduk di desa Singakerta Indramayu berprofesi sebagai pemburu atau pengepul burung liar.

Perburuan sebagai profesi dipengaruhi oleh kelimpahan burung di alam. Semakin menurunnya populasi burung mendorong pemburu untuk memutahirkan alat dan sistem berburunya. Proses trial and error yang dilakukan pemburu untuk menyiasati kelangkaan burung adalah pengalaman yang sangat berharga bagi teman-teman tim surveillance AI sebagai referensi menangkap burung alam.

Menangkap burung dan mengambil sampel darah merupakan pekerjaan pokok bagi tim surveillance. Dalam menangkap burung selain harus menguasai skill penggunaan alat dan biosafety, juga harus didukung dengan pengetahuan teknis yang berbasis pengalaman untuk dapat memilih lokasi dan waktu pemasangan jaring secara tepat. Faktor-faktor alam seperti arah angin, kondisi cuaca, siklus pasang-surut, tutupan lahan, koridor terbang kadang sering terlewatkan oleh teman-teman lapangan yang belum berpengalaman.

Untuk menyetarakan kemampuan teknis tim penangkap dengan pemburu yang lebih berpengalaman ada beberapa hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan membuat manual yang berisi panduan teknis dan sirkulasi daerah perburuan tahunan yang berbasis pengalaman (best practice).

Mengadopsi pengalaman pemburu menjadi penting bagi tim surveillance AI untuk mengoptimalkan jumlah sampel yang didapat. Ada empat hal yang dapat diadopsi oleh temen-temen penangkap AI; alat berburu, sistem berburu, daerah berburu, dan waktu berburu terkait dengan target burung yang ingin ditangkap.

Arif Faisal

Kutilang

Satu Tanggapan to “Belajar Bersama Pemburu”

  1. arif ndoet Says:

    Tidak jarang, kalau tidak boleh dibilang sering, pemburu berangkat berburu dan pulang tanpa hasil apapun. bukan hanya sekali dua kali. berkali-kalai, terutama saat musim sulit burung (non migrasi). maka yang lebih tepat menurut saya buka kreatifitas pemburu memutahirkan alat untuk mensiasati penurunan populasi burung, tetapi kreatifitas pembuatan alat tangkap untuk menyesuaikan jenis burung yanga kaan ditangkap berikut karakter habitatnya.

    yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan kemampuan dan daya adaptasi yang cukup signifikan bagi seorang surveilans untuk membaca, menganalisa dan memutuskan terkait alinea ketiga artikel diatas.

    salam
    ndoet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: