Konservasi

Blog Entry Kepentingan Masyarakat dan Konservasi: Tantangan dan Harapan Sep 7, ’08 4:02 PM
for everyone

Mengagas Konservasi Alam dengan Pengelolaan Berkelanjutan

Sebagai orang Indonesia, kita pantas berbangga karena tingginya keanekaragaman hayati Indonesia. Indonesia pernah mendapat julukan Zamrud Khatulistiwa. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia tercatat dalam Guiness Book of Record sebagai negara dengan kerusakan hutan terbesar dan tercepat didunia sebesar 2% per tahun. Fantastik, bukan? Tidak berhenti disini, bencana ekologis secara bergiliran menimpa Tanah Air kita. Bencana ekologis? Ya, semua terjadi karena keseimbangan alam yang terganggu. Apa penyebab utamanya?

Biologi konservasi adalah ilmu multidisiplin yang dikembangkan sebagai tanggapan untuk menghadapi krisis keanekaragaman hayati saat ini. Konsep konservasi kawasan beserta komponen biotik dan abiotik yang tercakup didalamnya mulai diterapkan pada kawasan berpotensi kerusakan atau kepunahan. Hanya saja, konservasi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidak dipungkiri bahwa konservasi seringkali berbenturan dengan kepentingan politik dan ekonomi.

Contoh kasus pada Taman Nasional Karimunjawa. Kawasan ini terkenal dengan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Diantara keanekaragaman hayati tersebut, beberapa diantaranya merupakan flora atau fauna dilindungi undang-undang. Misalnya, karang, kima, penyu, beberapa jenis ikan, burung dsb. Yang terjadi di sana saat ini adalah, sebagian masyarakat menambang karang untuk membangun rumah, fasilitas umum seperti dermaga dan bangunan lainya. Perambahan hutan juga tidak dapat dielakkan, padahal hutan karimunjawa tidaklah luas. Masyarakat mulai menjarah mangrove untuk diambil kayunya. Bahan bangunan sangat sulit didapatkan. Paling dekat, bahan2 tersebut didatangkan dari jepara, dengan biaya transportasi yang tidak sedikit. Dewasa ini, tren tanaman hias mengakibatkan perburuan setigi (jenis tumbuhan magrove) sebagai tanaman hias dengan harga jutaan rupiah. Pulau-pulau kecil dan sebagian pulau besar dijual, notabene pemiliknya adalah bule-bule berkantong tebal. Lahan ”dibersihkan” untuk dibuat resort dan fasilitas wisata. Tidak cukup disini, transportasi kapal antar pulau yang kian ramai berkembang memberi andil pencemaran laut yang patut diperhatikan.

Saat musim tertentu, burung-burung bertelur pada suatu pulau, semisal P. Gundul yang terkenal sebagai pulau yang dipenuhi telur burung berserakan pada saat musim breeding. Beberapa masyarakat mengaku mengambil telur untuk dijual. Konon, pengemar telur2 tersebut adalah wisatawan yang datang di Karimunjawa. Padahal kita tahu bahwa sebagian besar burung laut dilindungi keberadaannya oleh undang-undang. Saat kami sempat wawancara dengan oknum pengambil terlur tersebut, jawabnya mudah saja. ”sebetulnya kami tahu kalau telur2 itu tidak boleh diambil. Kalau ketahuan PHPA (sekarang PKA:Dinas Perlindungan dan konservasi Alam) kami bisa dihukum. Namun mau bagaimana lagi. Saat seperti itu, musim angin barat, kencang ombaknya. Hasil tangkapan ikan umumnya sedikit. Tak banyak nelayan yang berani melaut. Sedangkan kami butuh makan…” Ya, kita tidak sepantasnya menyalahkan masyarakat begitu saja.

Bagaimanakah seharusnya konsep konservasi itu disusun?

Putra Bahak (Haliaeetus leucogaster, White bellied sea eagle) Pulau Geleang Karimunjawa Sep 7, ’08 3:38 PM
for everyone

Elang Laut : Terancam Punah

Pagi itu, Senin 19 Juni 2006 kapal motor melaju membawa kami ke Pulau Galeang. Pimpinan Tim, Margareta Rahayuningsih yang akrab di sapa mbak Etta, memutuskan tim dibagi dua, satu team ke Galeang, sebagian yang lainya ke P. Burung. Ekspedisi di minggu ke dua ini mememang sepertinya harus di buat formasi lain, untuk menghindari kejenuhan teman-teman, begitu alasan beliau yang di sela-sela kesibukannya masih meluangkan waktu untuk “ngopeni” Pelatuk Bird Study Club (BSC). Mbak Etta, Fian dan Arif Gelatik (Pelatuk BSC) di pandu Mas Hari (Bahak Birdwatching Club) pengamatan di P. Galeang. Kapal tidak dapat merapat ke pulau karena terdapat karang, sehingga perjalanan di bantu dengan jukung. Selanjutnya, kapal motor membawa saya, Dani dipandu Mas Sukidi dan ditemani dua orang ABK menuju ke P. Burung. Empat jam kami pengamatan P. Burung telah selesai dijelajahi, namun “Sang Icon” Junai Emas belum juga muncul. Penjelajahan terus kami lakukan, menyingkap tebalnya Gabusan, Setigi diantara Sawo Kecik yang berbuah lebat. Sekali lagi, “Sang Icon” P. Burung juga belum kami temukan. Sampai pada akhirnya kami harus mengakhiri ketika handphone kami berdering, kabar dari Galeang : kami sudah selesai, cepat menuju kemari, ada yang istimewa.

Akhirnya kami menuju P. Galeang. Ombak yang besar membuat seorang rekan kami mabuk. Dari kejauhan, bak menara kokoh segagah mercusuar, membuat kami terperangah, itukah sarang Elang Laut Perut Putih? Seorang ABK membenarkan. “Ya mas, itu sarang Bahak” Begitu biasa penududuk sekitar menyebut Garuda Putih itu. “Dulu, sarangnya di P. Burung. Kemudian roboh. Sekarang ganti di P. Galeang.” imbuhnya bersemangat. Saya ditemani seorang ABK, merapat ke pulau dengan jukung. Seorang kawan terpaksa menunggu di kapal. Dan benar saja, sepasang Bahak bersoaring ria di sekitar sarang. Kadang-kadang bertengger di sebelah sarang, di pohon Kudho, sekitar enam meter dari tanah. Eksotik. Mbak Etta menyodorkan beberapa gambar hasil tembakannya. Wuuu… dua ekor bayi elang. Beberapa pose berhasil di dokumentasikan. Mas Arif Gelatik, dengan sedikit keraguannya berhasil memanjat pohon sarang, mengukur di beberapa bagian, menengok Sang Bayi Putra Samudera itu tergolek manja. Dari suaranya yang terekam menggambarkan ketangguhannya kelak. Putra Bahak berumur tak lebih dari dua minggu. Putra Bahak sedang asik di sarang dengan panjang 190 cm, lebar 175 cm setebal 83 cm dari susunan ranting yang di susun induknya dengan gaya artistic yang khas.

Kontan kami segera memasang monokuler, beberapa kali tembak, dan semuanya belum menghasilkan gambar yang memuaskan. Kami bergerak semakin mendekat, diantara alang-alang setinggi semeteran. Rupanya, induk Bahak terusik dengan kehadiran kami. Sedikit trik kamuflase yang tidak mujarab. Sang induk terbang, dan semakin jauh terbang. Tak kurang dari duapuluh menit kami berpanasan, dan belum dapat gambar seksi satupun. Sementara di belakang kami telah teriak-teriak. “Sudah, pulang saja. Lain kali kesini lagi. Kasihan seorang kawan di kapal. Tambah mabuk”. Akhirnya pemimpin rombongan, Mbak Etta menginstruksikan kami segera pulang. Sedikit kecewa, tapi biarlah. Toh semuanya berawal dari tiada, ada, kemudian tiada. Semoga masih ada kesempatan melihat Putra Samudera itu lagi, di lain waktu. Melihatmu bersoaring diantara deburan ombak. Melihatmu memutari jagat raya. Melihatmu mencengkeram mangsamu dan membawanya terbang membumbung tinggi. Kami pulang. Belum bisa melakukan sesuatu yang berarti. Belum bisa melindungi dan menjaga Putra Bahak itu hingga benar-benar mampu menjaga dirinya dari kerasnya dunia. Ya, induk Bahak itu lebih mampu mengajari tentang bagaimana hidup dan mempertahankan kehidupan. Tetapi, bahaya kejahilan manusia, saya tidak yakin, sang induk mampu menyelesaikannya sendiri. Meskipun sudah ada UU RI No 5 Th 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, PP No.7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, PP No 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar, SK No 412/Kpts/Um/8/8/1970UU serta criteria Apendiks II CITES, tidak ada jaminan Putra Bahak itu aman dari kerakusan manusia. Tetap butuh kepedulian kita semua, untuk menjaga, paling tidak buat berdo’a atas keselamatannya. Ada ide dari kawan-kawan semua?

Penulis : Arif S Nugroho, Pelatuk BSC

Mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian komunitas burung di P. Karimunjawa bersama Margareta Rahayuningsih, M.Si (2006-2007).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: