September 2008

Catatan burung 07-08 September 2007 Selo, Merbabu Kenari Melayu

Perjalanan kami sudah berlalu selama 30 menit, dalam vegetasi pohon-pohon ‘Puspa’ dan tanaman perdu yang rapat. Pagi pukul 06.30 kami mulai berjalan dari basecamp pendakian G. Merbabu Selo, Boyolali. Kami berdelapan berjalan menyusuri jalur pendakian yang masih basah bekas hujan semalam. Tim kami terdiri dari 3 orang staff TN Merbabu dan 5 orang dari Yayasan Kutilang. Beberapa burung yang kami temui disitu ada sikatan bodoh, cikrak daun dan cikrak muda. Sampai pada satu titik dengan vegetasi yang cukup rapat aku lihat sekumpulan seperti burung bondol di tajuk puspa yang kira-kira berjarak 5 meter dariku. Kemudian aku coba arahkan monokulerku ke burung-burung itu. Ya ampun, itu adalah Kenari melayu (Serinus estherae) yang kupikir sudah jarang ditemui. Jumlah mereka sekitar 20 ekor, paruh yang tebal, lebih tebal dari paruh burung manyar namun masih lebih kecil jika dibandingkan dengan bondol, aku hanya melihat sisi bawah tubuhnya karena ruang pandangku yang terbatas karena posisi yang terlalu vertikal. Ukuran tubuhnya sebesar bondol dan coretan hitam tebal yang cukup mencolok dari dada sampai perutnya. Leher, dada dan perutnya berwarna dasar putih keabu-abuan dan paruh abu-abu terang (Mungkin pengaruh pencahayaan matahari yang cukup terik di luar vegetasi). Pertama kali aku ketemu dengan burung ini sudah lama sekali ‘tahun 2004’ di Cangar, Malang. Beberapa kali aku mencoba memotretnya, wah cukup sulit karena aktifitas mereka yang aktif mencari makanan di bunga-bunga puspa di hari yang masih pagi tersebut. Dengan sabar, aku mencoba memotretnya dan akhirnya satu gambar dapat kuhasilkan. Puas dengan pengamatan hari itu, lalu kami beristirahat dan menginap di salah satu bukit di lereng Merbabu itu.

Edisi 1 insomnia

Catatan 25 September 2008_Kacamata Jawa

Seperti biasa ketika teman-teman pulang dari lapangan, mereka membawa berita-berita terbaru tentang burung-burung. Seorang teman (Jatmiko Widhi) berhasil menangkap Kacamata Jawa (Zosterops flavus) di Muara Demak (Pesisir utara Jawa) pada bulan September 2008. Spesies ini menarik karena catatan tentang burung ini minim sekali di dunia perburungan. Kalau gak salah sih di tahun-tahun 2006-2007 sempat juga ada catatan di pesisir utara Jawa yang juga dipublikasikan di milist SBI dan Oriental Bird Image. Pak Baskoro (dosen UNDIP) waktu itu mencatat adanya Kacamata Jawa di Semarang. Menurut buku panduan Mackinon, burung tersebut sangat jarang ditemui di pesisir Jawa dan kalaupun ada persebarannya hanya di pulau-pulau kecil di sekitar pulau Jawa seperti di pulau kangean dsb..

’Kurator’ KIBC mengidentifikasi burung tersebut dengan bantuan buku panduan mackinon, foto-foto burung di OBI dan berdasarkan keterangan ciri fisik dari pak Baskoro (UNDIP). Sebelumnya Adhy maruli (KIBC) juga memperoleh catatan menarik tentang kerabat dekat Kacamata Jawa yang juga jarang yaitu Kacamata Laut (Zosterops chloris) di Muara Gembong Bekasi. Menurut Mackinon, burung ini juga sangat jarang dan sebarannya di pulau-pulau di laut Jawa (Karimunjawa, Seribu, Masalembo). Di pesisir barat Jawa dan Bali tercatat sebagai pengunjung yang musiman.

Catatan-catatan tersebut mungkin pada suatu ketika digunakan sebagai referensi yang penting dalam menentukan penyebaran spesies. (wawankibc)

Funksen. Sept 2008

Seorang temen Chinese meneleponku, mas boleh minta konsultasi?.. saya mau melepas burung MERPATI em.. enaknya dilepas dimana ya yang gak banyak orang nembak?. Tentu aku cukup kaget, pada awalnya ketika kutanya ”dalam rangka apa pak? Dia tidak menjawab, oo gak hanya melepas aja gitu.., langsung aja kutebak, Fungsen pak?.. (: Iya. Dengan aksen senyum simpul dia menjawabnya, mungkin dipikir aku gak tahu Fungsen, hehe..Jawabanku sih gini, sebelumnya maaf pak kalau sarang saya bukan masalah lepas dimananya dulu tapi mbok jangan Merpati??..iya gak , merpati yang dijual di pasar belum tentu satwa asli dari alam Indonesia, sebagian besar diambil dari tempat penangkaran dan itupun telah mengalami proses genetis yang panjang dan gak jelas, menurutku..gimana ya, ya gak bisa mbayangin aja burung itu bisa surfive gak di alam? Sedangkan sehari-hari pakan yang diberikan adalah pakan olahan yang sudah tidak sama dengan yang di alam. Aku pikir burung-burung seperti merpati sudah terlalu lama dijejali dengan pakan yang tidak alami sehingga ini akan menyebabkan hilangnya kemampuan instingtif untuk mencari variasi pakan yang seimbang di alam. Kuduga kuat burung ini gak akan dapat bertahan di habitat liar.

Sejenak kuberpikir, apa ya..mungkin Kutilang atau trocokan lebih bagus pak”. Burung-burung tersebut adalah satwa asli yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia ya toh? So anggap saja sebuah pelepasliaran. Toh sebelum dijual di pasar mereka ditangkap dari alam, apa salahnya kalau dikembalikan ke alam kembali. Dan sesuai logika jenis burung asli apalagi hasil tangkapan liar kalau dikembalikan lagi ke alam kemungkinan akan lebih dapat bertahan, Logis toh?

Beberapa hari kemudian dia meneleponku lagi, pak..saya jadi melepas kutilang 100 ekor di Wonosari, ..he, kupikir Wonosari oke-oke aja, alam di sana masih bagus untuk habitat burung tersebut. Cuaca cocok dan persediaan pakanpun masih melimpah, jadi aku spontan mengamini saja. Bahwa itu merupakan reintroduksi yang less konsep dan monitoring dari segi KONSERVASI Ya..mungkin. but masih lebih bagus daripada melepas Merpati. Fungsen kalau gak keliru (mohon koreksi) adalah sebuah kepercayaan yang indah dan juga mendukung untuk konservasi. Membebaskan satwa ke habitatnya sekaligus dipercaya sebagai sebuah usaha untuk melanggengkan rezeki ataupun ungkapan rasa syukur. Aku pribadi mengapresiasi kepercayaan tersebut dengan sangat positif. Kalau dicermati, hanya sedikit dogma agama di negeri ini yang PROFAUNA, berwawasan Animal welfare dan mendukung konservasi. Komunitas yang mempunyai kepercayaan semacam itu sudah selayaknya didukung dan kalau mungkin didampingi agar niat yang mulia tersebut tidak berdampak negatif bagi konservasi

wawanKIBC

Kabar Elja dari bogor 2008- usep

Dear friend,

Tahun sekarang nasib elang jawa benar-benar menhawatikan, karena terjadi juga pada pasangan elang jawa di Cibulao Telaga warna

Puncak, nasibnya sama dengan elang jawa di gunung merapi. Kronologisnya pada bulan Juli 2008 telur elang jawa menetas hingga anak berumur 3 minggu yang kemudian tiba-tiba anak tersebut mati dan setelah melakukan penelitian dan pengkajian secara intensif ternyata fakto

r kematiannya ada dua sebab, yaitu: (1) faktor keterlambatan breeding yang seharusnya telur menetas pada bulan April terlambat dua bulan; (2) faktor perubahan cuaca mempengaruhi faktor ketersedian pakan yang semakin susah di buru oleh si induk dan ini bisa mengakibatkan induk tidak bisa memberi makan sianak. Namun berdasarkan hasil survey disekitar sarang ternyata anak e

lang jawa kemungkinan besar di makan oleh induknya dan ini sudah saya lakukan pemanjatan, ternyata di sarang tidak ada tanda2 bangkainya, kemudian kita melakukan penelusuran di hab

itat sekitar pohon sarang juga tidak diketemukan tanda2 bangkai anak elja. Ini mungkin menjadi isu utama, bahwasanya faktor penurunan populasi elang jawa juga di akibatkan oleh adanya perubahan cuaca (global warning).
Semoga nasib elang

jawa kedepan akan semakin baik, dengan harapan habitatnya tetap terjaga dan upaya pelestariannya harus tetap kita lakukan untuk menuju lestari secara alami.
Wasaalam
Usep Suparman



Catatan 6 september 2008

Berdiri beberapa saat di depan sebuah pintu rumah yang sudah 2 tahun ini kutinggali. Menatap langit yang mulai mendung pada sebuah sore, seekor burung terbang melintas melewati atap-atap rumah. Terbang ke arah selatan, lalu langit kembali sepi. Kesepian tidak berlangsung lama karena kurang dari satu menit kemudian burung dengan jenis yang sama menyusul, lalu burung ketiga, keempat dan seterusnya. Reflek mataku secara cepat mengirim pesan ke pusat kesadaran yang memaksa mulutku berkata,” Layang-layang api!”. Sekarang sudah memasuki awal September tepatnya tanggal 6, waktu yang pantas untuk kehadiran burung tersebut di negara ini. Burung Layang-layang api (Hirundo rustica) ini berasal dari asia utara, tempat yang jauh, tak terbayangkan olehku. Setiap tahun burung ini melakukan migrasi ke daerah equator untuk menghindari musim dingin yang tidak menguntungkan. Musim dingin yang membeku menjadi cuaca yang tidak kondusif dan mengakibatkan berkurangnya sumber pakan bagi burung-burung. Mereka melakukan migrasi untuk mempertahankan kehidupannya, mendapatkan sumber pakan dan cuaca yang sesuai. Perjalanan jauh mereka dimulai pada Autumn (musim gugur) dan biasa sampai di Indonesia pada akhir Agustus. Pada bulan oktober jumlah mereka mencapai puncaknya, memenuhi atap-atap gedung maupun kabel-kabel listrik di daerah perkotaan. Sekitar sepuluh menit aku mengamati sebelum kemudian aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.

WawanKIBC

3 Tanggapan to “September 2008”

  1. kutilang jogja Says:

    bagi temen2 yang mau nulis di sini silahkan. tulisan akan di muat tapi tentunya setelah melalui proses revisi dan editin oleh para editor kami.
    kirim tulisan beserta gambar ke kibczone@yahoo.com

    Terima kasih
    wawankibc as layouter

  2. kutilang jogja Says:

    Buried At PhotoCasket

  3. Khaleb Yordan Says:

    Wahhhh….Kasihan sekali nasib Elang Jawanya…
    Hmmmm….Memang sih sudah hukum alam, siapa yang kuat dia yang hidup.
    Tapi mungkin kita bisa membantu hewan yang lemah / terancam agar dapat bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: