Trisik, Kantung Keanekaragaman Burung yang Terabaikan

Oleh: Arif S Nugroho – Kutilang Indonesia Birdwatching Club

Pantai Trisik terletak di Kab. Kulon Progo, tepat di sebelah barat Sungai Progo yang memisahkan Kab. Bantul dengan Kab. Kulon Progo. Pantai Trisik merupakan objekwisata alam yang belum sepenuhnya tertata dengan baik. Pantai ini terletak sekitar 60 km arah selatan dari Kota Jogja dan dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Karena posisinya yang berada di dekat muara sungai Progo membuat kawasan ini sering dikunjungi oleh burung-burung air migran. Di setiap tahun pada musim-musim migrasi burung air kita dapat menjumpai ratusan sampai ribuan rombongan burung air yang singgah di kawasan ini.

Tipe Habitat

Trisik adalah kawasan yang masih menyimpan sisa keanekaragamanhayati di Yogyakarta. Salah satu keanekaragamanhayati yang ada di Trisik adalah burung. Banyak jenis burung yang menggunakan Trisik sebagai habitat. Hal ini didukung oleh kawasan Trisik yang menyediakan berbagai tipe habitat bagi burung. Setidaknya ada ada 5 tipe habitat di Trisik meliputi tepi pantai, laguna, delta sungai (meliputi sungai dan muara sungai), persawahan dan kebun campuran. Setiap tipe habitat menyimpan keanekaragaman jenis burung yang khas dengan karakteristik masing-masing. Habitat tepi pantai trisik adalah pantai berpasir dengan tebing pantai yang curam. Gelombang ombak tergolong besar. Burung-burung yang biasa menghuni adalah seabird dan shorebird.

Laguna yang kami maksud adalah genangan air di tepi pantai sebagai akibat dari luapan air sungai, tampungan air hujan dan pasang surut air laut. Jika musim penghujan, air akan lebih tawar, sedikit payau. Jika musim kemarau air akan sedikit kemasukan air laut. Meskipun demikian prosentase air laut yang masuk tidak menjadikan air menjadi asin. Sedikit payau saja. Disini hidup berbagai mikroorganisme mulai dari mikro bentos, zoo bentos, plankton, algae bahkan sampau beberapa jenis crustaceae. Burung biasa menggunakan lahan ini untuk mencari makan dan berkembangbiak. Beberapa burung terrestrial juga menggunakan lahan ini untuk minum.

Berdasarkan pengamatan, muara sekitar sungai dan daerah aliran sungai merupakan habitat wetland, kawasan berlumpur khas delta. Beberapa bagian ditumbuhi rerumputan dan sengaja ditanami rumput gajah untuk makanan ternak. Delta ini tersusun atas materi lumpur dan tergenang oleh pasang surut air laut. Di tepi sungai progo yang mengalir air tawar dan pasang surut air laut yang sedikit payau menjadikan kawasan ini kaya akan mikroorganisme dan bentos juga beberapa organism khas intertidal. Tidak mengherankan jika banyak burung yang singgah diarea ini baik untuk beristirahat maupun mencari makan terutama saat air laut surut.

Habitat persawahan adalah lokasi berupa wetland, persawahan yang masih berair dan berlumpur. Sawah yang kami maksud adalah sawah yang belum ditanami tetapi telah diolah dan dibajak. Sehingga tampak seperti hamparan lumpur dengan air menggenang. Burung biasanya sangat suka di daerah semacam ini. Meskipun demikian, sawah yang sudah ditanami dan padi belum begitu besar juga banyak dijumpai burung. Yang menjadi patokan adalah kondisi tanah. Asal masih ada lumpur dan air, burung masih suka berkunjung. Tetapi manakala padi sudah besar dan air sudah mulai kering, meskipun tanah masih basah, biasanya burung enggan untuk berkunjung. Burung yang saya maksud adalah wader/shorebirds. Habitat lainnya adalah kebun campuran. Beberapa lahan dikonversi untuk kebun dan lading dengan sisitem pengairan air tanah. Petani membuat sumur untuk menyiram tanaman. Tanaman yang menjadi komoditas andalah adalah cabai merah keriting dan semangka.

Keanekaragaman Burung

Burung-burung yang menghuni Trisik meliputi burung residen yaitu burung yang menetap sepanjang tahun di Trisik dan burung migrant yang hanya mengunjungi Trisik pada musim-musim tertentu saja.Burung migrant adalah burung pengunjung dari belahan bumi utara yang pada musim dingin bermigrasi ke belahan bumi selatan untuk bertahan hidup, menghindari cuaca ekstrim di Negara asalnya. Burung ini menggunakan habitat untuk mencari makan dan beristirahat. Burung ini akan kembali ke daerah asalnya untuk berkembangbik dan mengasuh anak-anaknya. Keberadaan burung migrant di Trisik menjadi sangat penting karena habitat trisik telah menyumbang kontribusi yang penting untuk kelestarian keanekaragaman burung dunia. Beberapa jenis burung migrant yang biasa dijumpai di Trisik diantaranya Trinil pantai, Trinil pembalik batu, Trinil semak, Trinil kaki hijau, Kedidi leher merah, Kedidi golgol, Kedidi besar, Kedidi putih, Cerek kalung kecil, Cerek pasir Mongolia, Cerek pasir besar, Cerek kernyut, Birulaut ekor hitam, Gajahan pengala dan Kaki rumbai kecil. Beberapa jenis yang baru-baru ini teramati adalah Birulaut ekor blorok, Kedidi merah, Cerek asia dan Kaki rumbai merah. Catatan ini menjadi penting karena beberapa jenis diantaranya bukan pengunjung yang lazim di Pulau Jawa.

Survey burung yang kami lakukan pada pertengahan November 2008 setidaknya ada 45 jenis burung yang teramati dalam sewaktu pengamatan burung. Metode yang digunakan adalah ekspolari langsung. Burung yang teramati dicatat jenisnya saja. Data yang didapat adalah daftar jenis dan tidak dapat dianalasi lebih lanjut. Jumlah jenis yang ditemukan tentu akan mengalami penambahan yang signifikan jika dilalukan pengamatan yang lebih intensif dengan metode yng lebih tepat. Kompilasi data yang dilakukan Yayasan Kutilang Indonesia mencatat hingga tahun 2008 setidaknya ada lebih dari 96 jenis burung yang telah dijumpai di Trisik. (Data pengamatan terlampir).

Ancaman Terhadap Burung

Keberadaan burung sebagai indicator perubahan lingkungan menjadi sangat penting untuk dilestarikan. Beberapa hal yang kurang mendukung atau bahkan mengancam kelestarian burung di Trisik diantaranya adalah perburuan, konversi lahan untuk lahan persawahan dan lading serta penambangan pasir kali dan pasir besi. Perlu adanya tindakan yang komperhensif antara masyarakat, pemerintah dan stake holder yang ada untuk mengagas konservasi burung di Trisik. Pola konsep konservasi yang muncul akan lebih baik secara buttom up. Masyarakat sebagai penyusun konsep dan didampingi oleh pemerintah, stakeholder termasuk LSM local. Tipe ini mungkin akan lebih efektif karena melibatkan masyarakat secara langsung.

trinil-pantai-1


7 Tanggapan to “Trisik, Kantung Keanekaragaman Burung yang Terabaikan”

  1. iszur Says:

    salam…
    Mo tanya nih. jenis burung migran apa yang termasuk bukan pengunjung yang lazim di Pulau Jawa? TRus kenapa mereka bisa sampai di Trisik?

  2. iszur Says:

    kalo nyasar aneh juga yach.
    setauku bangsa burung memiliki kemampuan untuk mendeteksi medan magnet bumi. kemampuan ini lantas membekali mereka untuk mengenali jalur migrasi, -pengejawantahan peta alam di mata mereka-.
    heeeeee…

  3. iszur Says:

    hwuaa!!!! ak di panggil mas?!!!!
    huft ..malangnya ak. hiks…

  4. TRI Says:

    Rumahku deket pantai trisik.
    Di sebelah barat pantai trisik ada pantai Bugel, disitu terdapat hutan yang dikhususkan utuk tempat pelestarian burung, di tempat juga dilarang keras untuk berburu lo mas…… silahkamn mas kunjungi aja

  5. Jakarta Birder Says:

    Burungnya sudah pakai cincin semua ya???
    Wahhh…sayang di jakarta burung pantainya tidak sebanyak di Trisik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: