Turgo, Merapi 19 april 2009

turgo-2

Oleh : B. Setyawan

kibczone@yahoo.com

Peserta seluruhnya berjumlah 20 orang termasuk para pemandu : Aan, Jarot dan Wawan. Kami mulai berjalanan naik pada pukul 09.19 WIB, cuaca mendung tak membuat kami gentar untuk tidak melangkahkan kaki dalam kegiatan pengamatan burung bersama SMP 16 Jogjakarta. Teman-teman SMP melihat burung-burung Kacamata, Caladi ulam, Cucak Kutilang, Walet linchi, serta burung Gagak hutan di sekitar portal masuk bukit Turgo. Ada burung wallet yang bertunggir putih kusam, kami cukup sulit mengident burung tersebut, ada dua opsi kalau gak Walet sarang hitam ya Walet sarang putih, ukuranya sedikit lebih besar dibanding Walet linchi.

Kami berjalan bersama-sama para peziarah Syeh Jumadil Kubro yang petilasannya ada di puncak bukit ini. Setengah perjalanan berlalu kami berjumpa dengan Cabe gunung yang berpasangan, sepertinya mereka baru saja memulai musim breeding bulan ini. Pada suatu tempat perhentian si Antok (kelas 3 SMP 16 Jogjakarta melihat Sikatan belang jantan yang duduk di atas bangunan sarang. Sarang burung tersebut tergantung di tanaman menjalar yang rantingnya terjuntai ke bawah dengan sebagian daunnya terlihat kering. Segera setelah melihat burung itu, si antok menginformasikannya kepada teman-teman SMP yang lain (Adik kelasnya) sehingga kami semua melihat burung tersebut. Dekat sarang tersebut, terdapat pula sepasang Sikatan kepala abu yang bertengger di ranting kering tak berdaun. Disitu kami belajar mengident burung Kangkok Ranting dengan suaranya yang khas: “set gung-gung”. Entah kenapa memang sulit sekali mengamati burung Kangkok tersebut, sepanjang sejarah pengamatan burung, burung tersebut lebih mudah terdengar suaranya daripada ujudnya. Kemungkinan karena burung tersebut memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi atas kehadiran manusia. Lalu kami mendengarkan suara cikrak daun dan sikatan belang. Teman-teman SMP kelihatan cukup senang dan antusias dengan burung-burung di sekitar mereka. Seorang anak tiba-tiba melihat Elang hitam yang berkelebat di antara pepohonan di lereng timur Turgo. Beberapa kali kami mengalami pertemuan yang sama. Si Elang hitam tidak terbang tinggi, mungkin sedang bergerilya untuk mencari mangsa atau memang karena cuaca mendung yang mulai berkabut sehingga burung tersebut tidak dapat terbang cukuptinggi bermain-main dengan udara panas.

Walau semua anak sudah terlihat letih karena jalan terjal di lereng Turgo, akhirnya sebagian besar anak sampai juga di puncak Turgo yang ternyata sudah cukup ramai dikunjungi para peziarah. Waktu itu jam di HP kami menunjukkan pukul 11.00 yang membuat kami memutuskan untuk turun. Dalam bulan-bulan ini di kawasan Merapi sering sekali terjadi hujan di atas jam 12.00 WIB. Kami turun pelan-pelan, beberapa anak sempat terpeleset beberapa kali, namun mereka masih menunjukkan sikap ceria dan senang dengan perjalanan hari ini, melelahkan tapi mengasyikkan. Akhirnya semua anak sampai di portal masuk bukit Turgo pada pukul 13.14 WIB. Terlihat dua ekor Elang dari jarak yang jauh di atas Plawangan, rupanya yang satu memutar dan kembali ke Plawangan sementara yang satunya melanjut kea rah barat melewati langit di atas kepala kami. Dari situ kami mengident Sikep Madu asia yang sepertinya bergegas meluncur ke arah barat (mungkin) dia dalam perjalanan pulang (Migrasi Balik). Kami menduga Elang yang satunya yang kembali ke Plawangan adalah Elang lokal yang tidak begitu suka dengan kehadiran si pendatang dan dia mencoba mengusirnya. Lalu kami kembali ke Jogja dengan membawa memori perjalanan hari ini masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: