Burung-burung Manyar 3 April 2008 Jatimalang

manyarOleh : B. Setyawan

kibczone@yahoo.com

Siang yang tidak terlalu panas, tidak seperti biasanya kami sekarang berdiri di atas pematang sawah, Lokasinya di kawasan pantai Jatimalang, purworejo. Teriakan temanku memberi tanda bahwa dia telah melihat seekor burung yang menarik. Dia berkata ,” manyar emas,manyar emas!’ , lalu aku melihat seekor burung berwarna kuning keemasan di atas batang-batang tifa di tepi bekas tambak yang sudah tidak terkelola lagi. Aku perhatikan lagi disekitar mata, paruh sampai lehernya berwarna coklat gelap, bagian tubuh atas dan bawah kuning emas juga tengkuk dan kepalanya. Sayap dan ekor bagian atas berwarna coklat dia bergerak lincah diatas batang-batang tifa dan alang-alang. Aku tahu burung ini adalah burung Manyar emas (Ploceus hypoxanthus ). Burung ini sudah jarang ditemui dan berstatus mendekati terancam (Near treathened) menurut IUCN Redlist 2004. Kami berjalan menembus rimbunnya batang-batang tifa di atas rawa-rawa bekas tambak. Kedalaman rawa-rawa yang kami lewati rata-rata paling dalam sampai setinggi paha orang dewasa. Bahkan beberapa kali kami terperosok ke kedalaman sampai setinggi pinggang. Sampai pada suatu tempat yang terbuka kami melihat di seberang rawa depan kami seekor burung berwarna cokelat seukuran burung gereja dengan kepala yang berwarna kuning. Daerah wajah tepatnya disekitar mata sampai bawah paruh berwarna cokelat gelap. Dadanya berwarna cokelat keputih-putihan, sedangkan bagian punggung dan sayapnya berwarna cokelat dengan coretan hitam (lurik). Paruhnya yang berwarna abu-abu gelap dan lebih tebal dibanding paruh burung gereja. Kami bersepakat itu adalah burung Manyar Tempua (Ploceus philippinus), burung yang juga sudah cukup sulit ditemui ditempat lain. 2 jenis burung manyar tersebut merupakan jenis yang baru kutemui selama melakukan pengamatan burung. Kemudian kami melihat sarang burung yang menggantung di ranting pohon ‘soneratia’, bentuknya seperti buah apokat dengan lubang berbentuk hampir setengah lingkaran. Sarang tersebut kelihatan masih baru dibuat karena warna materi sarang yang masing hijau. Di sekitar sarang tersebut juga ada sarang-sarang lain yang menggantung tapi sudah berwarna cokelat. Bentuknya sama seperti¬† sarang ‘apukat’ tapi ada tambahan di bawah memanjang menjadi semacam lorong. Kemudian kami melihat sepasang burung manyar tempua yang datang lalu hinggap di dinding sarang apukat. Satu individu betina yang warna dominannya cokelat masuk ke dalam lewat lubang setengah lingkaran tadi, sedangkan si jantan masih menggantung di luar. Mereka mungkin adalah pasangan yang mencoba membangun rumah untuk keluarga mereka nanti. Walaupun masih terlihat hijau sarang tersebut terlihat kuat dengan anyaman alang-alang yang rapat dan kokoh. Menurut keterangan warga atau petani disitu dulu banyak sekali burung manyar ini namun kemudian banyak pemburu dari luar daerah yang menangkapinya, sehingga sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang. Kami pikir burung-burung manyar sudah selayaknya berada disana menemani para petani yang sibuk mengolah sawahnya.

2 Tanggapan to “Burung-burung Manyar 3 April 2008 Jatimalang”

  1. swiss Says:

    mas, mbok nek nulis iku dikei paragraf….rada mumet aku macane…bolak-balik maca neng baris yang sama…btw, keep writing bro..

  2. kutilang jogja Says:

    hehe, sip masukkanna..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: