Pengamatan burung adalah Seni

Sebuah refleksi pengamatan burung

Oleh : B. Setyawan

ekor pendek sekali, Terbang seperti caladi (meluncur dengan ciri membuka sayap dengan cepat kemudian menutup beberapa saat diam, kemudian membuka sayap lagi cepat. Terbang lebih cepat dibanding burung cekakak)” itu adalah catatan pengamatan KIBC pada 8 Februari 2008, setahun yang lalu. Pengamatan burung lebih terasa sebagai seni “mengidentifikasi”. Catatan diatas merupakan fakta yang sering kali terjadi pada setiap aktifitas pengamatan. Bagi yang sering melakukan kegiatan ini, mungkin akan lebih mudah mengidentifikasi burung yang dimaksud di atas. “Jam terbang” sangat menentukan keahlian seseorang melakukan identifikasi burung. Setidaknya ada 494 jenis burung-burung tersebar di seluruh kawasan Pulau Jawa (Mackinon, 1995). Tentunya, kekayaan “biodiversity” tersebut merupakan aset berharga bagi keberlanjutan kegiatan tersebut. Bagi pengamat burung, setiap jenis mempunyai ciri-ciri dan karakteristik tersendiri yang penting untuk identifikasi. Burung betet dengan gaya terbang cepat dan bentuk sayap yang runcing, akan berbeda dengan burung bondol yang berukuran lebih kecil dan tipe habitat yang berbeda. Gaya terbang burung bondol yang tidak secepat burung Betet, lalu frekuensi bersuara dan keras lemahnya suara juga sangat beda. Sering sekali dilakukan penelitian tentang burung-burung, baik kajian “biodiversity”, “ekology”, pakan dan lain-lain. Banyak sekali peluang-peluang penelitian terhadap kelompok binatang ini. Hal mendasar pertama untuk melakukan penelitian-penelitian tersebut adalah kemampuan mengenali jenis-jenis burung. Pengamat burung membuat dokumentasi dari lapangan tentang burung-burung tersebut dengan membuat catatan peristiwa mencakup deskripsi “morfologi” dan perilaku, waktu, kondisi habitat, sketsa dan tentunya pengamat. Pengamat burung yang melalui tahapan-tahapan teknis tersebut biasanya (walaupun belum ada penelitian serius tentang hal tersebut) akan lebih bertahan lama dalam hal kegiatan pengamatan burung. Semakin lama melakukan kegiatan tersebut, pengamat burung akan lebih mencintai aktifitasnya dan merasakannya sebagai sebuah seni. Pengamat burung yang melakukan kegiatan pengamatan hanya saat ada kegiatan penelitian-penelitian untuk skripsi, tesis atau skema-skema “ilmiah formal” yang lain, akan menjadi pengamat burung sementara saja, habis proyek ya sudah. Nilai-nilai “estetis” yang didapat dari kegiatan tersebut akan membentuk seseorang menjadi pengamat burung yang “tangguh” dalam arti keakuratan identifikasi jenis dan bertahan lama untuk mencintai kegiatan tersebut. Logika selanjutnya adalah bahwa “menjadi pengamat burung yang tangguh” seharusnya merupakan prasyarat untuk melangkah ke tahapan “penelitian serius”. Fakta di lapangan, cukup sulit menciptakan sebuah piranti untuk mengukur ketangguhan pengamat burung. Tolak ukur yang tidak jelas tersebut kemudian akan kembali membawa kegiatan pengamatan burung menjadi sesuatu yang (hanya) bersifat seni. Sekarang terserah bagi masing-masing individu untuk memilih, mau jadi “seniman pengamat burung” ataukah yang lain?.

dscn9827raja-udang-meninting-wawan91

Foto hasil pengamatan di lembah UGM 8 Feb 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: